Kalangpepes

Kalangpepes


ngomong-ngomong
, apa yg ada di benak kita tentang budaya pop? Pasti beragam cara pandang. Sekedar memberi conto, di Tembalang saja gak usah jauh2. Bagi teman2 yg udah lama loncat dari Kampus Tembalang Penuh Pesona (disingkat KALANGPEPES), mungkin bisa menemukan gejala ini di tempat masing2.
(1) Maraknya DISTRO, baik baju maupun aksesoris kekinian.
(2) Maraknya kafe, dari yg sederhana sampai kelewat sederhana.
(3) Tumbuhnya tempat nongkrong dan komunitas gaul.
(4) apa maning yak?......ntar jg ketemu.
Maraknya Distro memberi keleluasaan muda mudi untuk memilih, memilah baju sebagai bekal aktualisasi. Ada yg menyesuaikan budget, ada pula yg sedikit maksa beli mahal padahal gak sinkron sama kondisi fisik maupun mentalnya. Ada yg memilih fashionable, ada yg pengen tetap bersahaja. Tapi perlu diingat, yg namanya mode kadang tidak mengenal pantas enggaknya, yg penting gak ketinggalan ama yg lain.
Maraknya kafe (waroeng) memberikan banyak tempat makan pilihan sesuai selera dan kantong. Ada yg mengejar suasana, atau memang mementingkan indra pengecapan yg sulit tuk dibohongin. Rasa gak bisa berdusta, betul gak mbak yu? Tempat2 ini biasa dijadikan ajang nampang dan numpang mode yg barusan dibeli.
Banyaknya tempat nongkrong dan tumbuhnya komunitas gaul kurang lebih sama. Ada yg berbasis olah raga seperti komunitas futsal, ada pula yg berbasis musik, atau otomotip, atau yg lebih hi tech semisal komunitas oveclocking dan gaming.
Saat ini, yg paling kelihatan adalah pengaruh budaya CELPEN alias celana pensil. Gak muda gak mudi, pokoknya celpen. Dimana mana celpen. Di kampus, di warung, di warnet, di toko2, di kucingan, pokokke celpen!! Budaya celpen ternyata cukup berpengaruh sehingga memberi kesan adanya penyeragaman perihal penutup aurat yg satu ini (homogenity on fashion...tenan po ra iki...???hehehe. ..). Lha piye maneh, kenyataannya begitu. Ada yg tambah cakep dan caem dgn penampilan celpen-nya, namun tak sedikit yg merisaukan pandangan mata alias mekso. Tapi ya itu tadi, namanya saja mode, pantas gak pantes yg ngikutin tetap aja banyak.
Kalo dikaitkan dengan perkembangan KALANGPEPES sebagai sebuah kawasan pendidikan tinggi (lihat RDTRK Kota Semarang 2000-2010), masa2 ini boleh disebut periode Perkembangan Wilayah berbasis CELPEN (Regional Growth depend on Celpen...bener ora Yem bahasane?). Kenapa bisa begitu? Alasanya, budaya celpen mampu merangsang pertumbuhan distro, perkembangan reparasi baju dan celana oleh tukang jahit, menumbuhkan sentra2 laundry, yg menempati space2 secara linier di sepanjang jalan Prof. Sudharto. Cukup banyak aktivitas ekonomi ikutan akibat pengaruh celpen.
KALANGPEPES kini mulai menjelma menjadi kawasan bisnis aneka rupa. Periode celpen mau gak mau harus diakui sebagai periode penuh gairah, lebih tasty, more expresive, dan lebih seksi, dalam balutan bentuk2 yg simpel dan modern. Budaya celpen memberikan pengaruh perkembangan yg renyah dan segar, sesegar sup buah yg berarak di pinggir jalan Prof. Sudharto. Budaya celpen memberi nuansa perkembangan KALANGPEPES yg lebih tasty, ekpresif, dan seksi, bersama lengak lenggok muda mudi dibalik balutan baju individualis nan cuek khas metropolis.
KALANGPEPES belum mau mati. KALANGPEPES seolah remaja tanggung yg sedang mencari jati diri, jati bening, jati barang, jati sari, pasar jati......loh loh loh...malah nglantur!!! KALANGPEPES sedang bergeliat, bersolek, seperti gadis perawan dukuh yg pemalu, alon-alon tapi kelakon. KALANGPEPES tidak mau kalah dengan pesaingnya seperti Pleburan, Bulak Sumur di Jogja, Depok di JKT, Dipati Ukur dan Dago di BDG. Apalagi nanti jika masterplan UNDIP benar2 100%, maka sepertinya KALANPEPES di kemudian hari akan terus berkembang menjadi kota mandiri, dengan KALANG sebagai point of growth-nya. Harapan kita, tentunya KALANGPEPES tidak kehilangan soul-nya, seperti yg dikatakan Prof. Eko, tidak kehilangan ingatanya alias gila, meskipun didera pop culture...SEKIAN DAN TRIMA KASIH.

~Peace, Love, and Respect~
Prast

planologi_2k@yahoogroups.com
SHARE

About GOJEK #GolekRejeki

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar:

semarang said...

Wah....wah.. .wah..... .speechless aku baca tulisan bang eko dibawah ini

Apakah tembalang tercinta sudah sedemikian berubahnya? mungkin jika suatu hari bruank mampir di tembalang, bru takut bisa2 tidak mengenali tembalang yg dulu 6 tahun jd tmpt hibernasi yg nyaman buat bru

seingat bru, dulu kita bs dgn santainya berseliweran dgn busana kebangsaan: kaos oblong (favorit: warna biru bertuliskan plano 2k and berlogo locus solus), cln panjang/pendek, n sendal jepit. makan jg di warung2 kucingan yg byk berjualan di sepanjang jalan, tmsk di dkt basecamp dulu. tempat nongkrong, kalo ga di teras kampus ya di dpn GSG, kalo agak mekso ya di Wisma Tara.

Apakah Tembalang akan kehilangan kesahajaannya dan menjadi korban mode spt kawasan2 pendidikan lainnya?

~Bru~

semarang said...

wah,ternyata pras jadi saksi hidup perkembangannya tembalang y?udah ganti nama pula jadi KALANGPEPES. ..ada to yang namanya ikan kalang?hahahahahaa. ..

tembalang jadi berubah?yo wajar to, mosok mo katrok terus..kan kasian juga penduduk pribuminya,dsuruh ngliat manusia2 yang tampilannya itu-ituuuuuuuu mulu.tapi tenang aja,yang namanya budaya pop, pasti ada masa berlakunya kok..nanti kalo udah ga ngetren lagi ya bakal ilang dari peredaran..jadi kalo sekarang dibikin pusing gara2 disepanjang jalan disuguhi tontonan celpen mulu..ya mungkin ini waktunya bwt menjaga mata agar tidak tengak tengok kanan kiri menyelidik lebih jauh seberapa cekak atasan yang dipakai untuk memadukan celpen yang dipakainya.. halah...( aku jug ndak setuju kalo celpen dipadu dengan atasan yang kurang panjang...) ato udah melalui survey dulu spti quick count misalnya untuk mengetahui prosentasi seberapa besar pengguna celpen di PEPES KALANG?hehehe. ..

mungkin perubahan itu (tata ruang,gaya hidup,etc) harus disyukuri juga,karna paling tidak: 1).jadi tambah banyak junction yang enak buat ketemuan.jadi kalo sewaktu2 kita2 seangkatan ketemuan d tembalang cukup janjian aja ketemu di cafe ini atau warung itu...shg kostnya pras ga penuh sesak sama tamu2 yang pd dateng dari smw penjuru,hehehe. .2).jadi banyak tempat buat menyerap tenaga kerja lokal shg pola pikir penduduk setempat juga jadi lebih urban..(eits, wilayah disebut urban lebih diliat dari cara hidup masyarakatnya kan? bukan cuma diliat dari lingkungannya yang msih bnyk pohon2 besar dan semak2nya?wong di jakarta aja mo dibangun garden city yang niscaya banyak bgt pohon2 nya?...lah jadi meracau kan ngomongnya.. .)

tapi tempat2 buat kegiatan religius juga masih ada kan di PEPES KALANG, pras?musholla dan masjid2 kecil yg tsebar dimana2 bersama komunitasnya yang sejuk itu...trus gereja di ngesrep juga kayanya semakin besar kan sekarang?sama itu...mmm..masjid kampus udah selesai dibangun kah?
semoga menyemutnya tempat2 gemerlap dari adanya anchortenant (ikan) KALANG, juga diimbangi dengan tumbuhnya komunitas yang sejuk buat menyeimbangkan kehidupan duniawi mereka, not just symbolize by d artefact of empty religious building tok...halah. ........

film juga bagian dari budaya pop kan?hayooo.. .mana nih karya2 pembuat2 film plano???ketika dulu ada AADC, niscaya banyak bgt anak2 abg yg jadi sastrawan dadakan bikin curhatan lewat puisi, hihihi.... trus sekarang udah ada film ayat2 cinta yang (katanya) menginspirasi banyak orang untuk menjadi sosok seperti pemeran2 protagonis di film itu.apalagi bentar lagi katanya ada novelnya el shirazy yang mau difilmkan lagi...dan lagi...., trus ada juga rencana memfilmkan laskar pelangi-nya andrea hirata...wuih, pasti akademis di PEPES KALANG jadi tambah terinspirasi sama kehebatan anak2 belitong itu, jadi paling tidak, bisa membakar kembali soulnya PEPES KALANG yang berintikan di bidang pendidikan.. .semoga saja.mungkin film2 indonesia sebelumnya banyak yang pake kostum celpen pras...jadi masyarakat di PEPES KALANG banyak yg terinspirasi pake kostum itu...hahaha. .
kira2 apalagi y yang bakal mempengaruhi peradaban di PEPES KALANG, pras?

sory for prefering PEPES KALANG than KALANGPEPES. ..
salam =)
Umi