Paragon City Harus Ganti Teknik Pemasangan Pondasi

15/05/2008 19:18 wib - Daerah Aktual
Paragon City Harus Ganti Teknik Pemasangan Pondasi

Semarang, CyberNews. Teknik pemasangan pondasi Mal Paragon City dan Hotel Holiday Inn di Jalan Pemuda yang selama ini menggunakan tiang pancang, harus diganti dengan sistem bor pile. Hal itu harus dilakukan agar kerusakan yang diakibatkan pemasangan tiang pancang tidak bertambah luas.

Demikian disampaikan staf pengajar Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Dr Ir Sri Tudjono MS, menanggapi kasus kerusakan konstruksi yang terjadi di gedung kantor PT Kereta Api Daerah Operasi IV Semarang di Jalan Thamrin, Kamis (15/5). Menurut dosen mata kuliah Baja di S1 Teknik Sipil Undip itu, sistem tiang pancang yang selama ini digunakan memang memiliki efek negatif bagi lingkungan sekitar.

Selain suara, getaran yang ditimbulkan juga besar sehingga bisa merusak bangunan di sekitarnya. "Sebaiknya jika ingin melanjutkan pembangunan, sistem tiang pancang diganti dengan bor pile. Tapi jika tidak, bisa saja pemasangan tiang pancang diteruskan. Asal bersedia bertanggung jawab mengganti semua kerusakan," tuturnya.

Ia menjelaskan, meski sistem bor pile mempunyai efek kotor, namun sistem ini dianggap paling tepat karena tidak memiliki efek getaran dan suara yang mengganggu lingkungan sekitar. Proses pemasangan pondasi bor pile dilakukan dengan mengebor tanah hingga kedalaman yang dibutuhkan. Kemudian besi tulangan dimasukkan dan pengecoran pondasi dilakukan langsung di tempat, yaitu dengan memasukkan cor-coran langsung ke dalam lubang yang telah dibor.

"Biasanya air tanah akan keluar bersamaan dengan proses pengeboran. Air tanah ini akan bercampur dengan tanah sehingga membuat kotor lingkungan. Tapi itu tidak seberapa, karena kotoran bisa diangkut keluar," kata Sri Tudjono.

Selain kotor, biaya pondasi bor pile memang jauh lebih mahal dibanding pondasi tiang pancang. Sistem ini juga memiliki risiko kualitas pondasi yang tidak sebagus tiang pancang. "Tiang pancang itu paling murah biayanya dan kualitas juga paling bagus karena pembuatan pondasi berada di atas, tidak di dalam tanah. Namun dari segi fungsi, keduanya sama saja," jelasnya.

Padahal, lanjut dia, dulu awalnya sistem pemasangan pondasi yang mencapai kedalaman sekitar 20-30 meter milik Mal Paragon City itu menggunakan sistem pondasi bor pile. "Tapi entah kenapa, diganti menjadi tiang pancang. Namun masih tetap bisa diganti dengan bor pile," imbuhnya.

Memang, umumnya kelemahan bangunan kuno seperti kantor PT KA adalah dindingnya hanya dinding tembok biasa, yang terdiri atas lapisan batu bata tanpa rangka beton bertulang seperti bangunan modern sekarang. "Jadi wajar jika rentan terhadap getaran yang hebat seperti ini," katanya.

Arsitektur berkelanjutan

Sementara itu Prof Ir Totok Roesmanto MEng, salah satu guru besar Arsitektur Undip mengatakan, seharusnya sebelum mendirikan bangunan baru, perlu ada kajian pengaruhnya terhadap lingkungan sekitar. "Apalagi ini bangunan baru yang akan dibangun bersebelahan dengan bangunan cagar budaya seperti kantor PT KA dan Pertamina," ujarnya.

Ia memaparkan, kantor PT KA adalah salah satu karya Thomas Karsten pada tahun 1931. Bangunan tersebut adalah salah satu bangunan yang menerapkan suistanable architecture atau arsitektur berkelanjutan. Hal itu bisa dilihat dari adanya tandon bawah tanah yang berfungsi sebagai penyejuk ruangan.

"Padahal, saat ini suistanable architecture sedang gencar-gencarnya
dibicarakan, berkaitan dengan mengurangi pemanasan global. Kantor PT KA ini adalah salah satu bangunan kuno yang sudah menerapkan sistem itu," tuturnya.

Menurutnya, bangunan yang bentuknya mengeksplorasi bentuk pendopo Jawa ini juga memiliki kelebihan lain, diantaranya memiliki ventilasi silang yang bagus. "Jadi sangat sayang, jika hanya gara-gara proses pembangunan Paragon City, kita jadi kehilangan salah satu contoh arsitektur berkelanjutan," kata dia.
SHARE

About GOJEK #GolekRejeki

    Blogger Comment
    Facebook Comment

6 komentar:

Anonymous said...

Gak tau yang bodoh yang ngebangun atau yang ngawasin......

Anonymous said...

tau ah...gelap

deny said...

menurut saya yang dilakukan paragon sudah benar, kaerna bila menggunakan pancang bisa remuk semua bangunan.. karena pancang getarannya sangat hebat sedangkan bor pile sgt silent. retak2 tembok merupakan hal yang lumrah selama struktur bangunan tdk retak jg.. kemungkinan retaknya bangunan sekitar karena tidak imbangnya tekanan air di lokasi proyek dng luar proyek karena ketika melakukan borpile untuk retaining wall ada air yang keluar seharusnya hal itu bisa dicegah dengan disuntik air ke tanah diluar lokasi proyek, saya kira paragon sdh melakukannya tetapi mungkin tekanan kurang tinggi shingga tdk seimbang.gitcu

Anonymous said...

Agus Bilang,

Kalo masih sayang dengan kota semarang, ya semuanya harus menjaga segalanya dari nilai budaya, historis dan arsitekturnya baik yang lama ataupun baru. Itulah yang disebut " JIWA NASINOLISME INDONESIA "Jangan mau menangnya sendiri, sadarilah bahwa hidupmu tinggal sehari please cintailah kota semarang ini.

kia said...

menurut saya yang dilakukan paragon sudah benar, kaerna bila menggunakan pancang bisa remuk semua bangunan..

kia said...

menurut saya yang dilakukan paragon sudah benar, kaerna bila menggunakan pancang bisa remuk semua bangunan..